KAJI TINDAK PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SATU ATAP UNTUK MENINGKATKAN LIFE SKILLS SISWA DAERAH TERPENCIL

Nurul Ulfatin, Amat Mukhadis

Abstract


Abstract: The activity of Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) aims to develop junior high one roof school (Ngenep and Klampok) to carry out activities independently. Especially in developing: learning programs, teaching methods, learning practices and models of local content. Achievement of this goal, done with focus groups discussions (FGD), observation, training and workshops, and mentoring. FGD to agree on the type of local content and the teaching of life skills students are selected. Training, worshop and mentoring to develop and apply life skills in the chosen local content. Field observations to identify the dominant factors and constraints of the school. The results of the action studies of the follow shows: (1) two types of life skills in sewing and cooking are selected and developed by junior high one Roof school in Ngenep, Karangploso and Klampok, Singosari Districts of Malang Regency; and (2) two selected skills and further developed as a flagship pro-gram, according to the results needs assessment a reasonable completion of 9 years, and craft lesson (local content) in the Curriculum 2013, the sub-field of handicraft and processing.

Keywords: life skills, learning process, local content, junior one roof school, remote areas

Abstrak: Kegiatan Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) bertujuan mengembangkan SMP satu atap (SMP Satap Ngenep dan SMP Satap Klampok) dapat melaksanakan kegiatan secara mandiri. Terutama dalam mengembangkan: program pembelajaran, metode pembel-ajaran, dan model praktik pembelajaran muatan lokal. Pencapaian tujuan ini, dilakukan dengan focus groups discussion (FGD), observasi lapangan, pelatihan dan workshop, serta pendampingan. FGD untuk menyepakati jenis matapel-ajaran muatan lokal dan life skills siswa yang dipilih. pelatihan, worshop dan pendampingan untuk mengembangkan dan mengaplikasikan life skills terpilih dalam muatan lokal. Observasi lapangan untuk mengidentifikasi faktor dominan dan kendala sekolah. Hasil kaji tindak menunjukkan: (1) dua jenis life skills menjahit dan memasak dipilih dan dikembangkan oleh SMP Satu Atap Ngenep Karangploso dan SMP Satu Atap Klampok Kecamatan Singosari Kabupaten Malang; dan (2) dua keterampilan terpilih dan dikembangkan lebih lanjut sebagai program unggulan, sesuai hasil analisis kebutuhan penuntasan wajar 9 tahun, dan matapelajaran prakarya (muatan lokal) dalam kurikulum 2013, dengan subbidang kerajinan dan pengolahan.

Kata kunci: daerah terpencil, life skills, muatan lokal, pembelajaran, SMP satu atap


Full Text:

PDF

References


Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. 2007. Mile Stone Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2007. Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur. 2007. Grand Design Pendidikan Propinsi Jawa Timur Tahun 2008. Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Kurikulum SMP 2013. Jakarta: Kemendikbud.

Intruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara. 2007. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Keputusan Bupati Malang Nomor 180i.1187/KEP/421.013/2007 tentang Penetapan Lembaga SD-SMP Satu Atap. 2007. Malang: Pemerintah Kabupaten Malang.

Keputusan Bupati Malang Nomor 180i.162/KEP/421.013/ 2010 tentang Penetapan Lembaga SD-SMP Satu Atap. 2010. Malang: Pemerintah Kabupaten Malang.

Ulfatin, N. 2005. Mengembangkan Life Skills di Sekolah Menengah dan Tinggi. Makalah disampaikan dalam Seminar Kolegial Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Ulfatin, N., Mukhadis, A., dan Imron, A. 2009. Profil Wajar 9 Tahun dan Model Strategi Penuntasannya pada Daerah Rawan DO & tidak Melanjutkan ke Sekolah Lanjutan. Laporan Penelitian. Malang: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.

Ulfatin, N., Mukhadis, A., dan Imron, A. 2010. Profil Wajib Belajar 9 Tahun dan Alternatif Penuntasannya. Jurnal Ilmu Pendidikan, 17(1), 12-19.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 ABDIMAS PEDAGOGI



View My Stats