Politik Hukum Penetapan Haluan Negara Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Abstract
This study aimed to analyze legal politics and determine the broad guidelines of state policy based on the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. This study was included in the type of legal study with a statutory approach, a conceptual approach, and a historical approach. The People's Consultative Assembly did not establish the main points of state policy. However, they were jointly formed by the President, the People's Representative Council, and the Regional Representatives Council because the People's Consultative Assembly was no longer located as the highest state institution. The construction of the broad state policy guidelines, designed by the candidate for President or Vice President and his coalition before the general election, was then ratified into law if it had been elected as President. The regulatory period for the state law was designed for five years to make the legal norms more concrete.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Anggono, B. D., Arundhati, G. B., & Usfunan, J. Z. (2017). Kajian Akademik Reformulasi Haluan Negara Model Garis-Garis Besar Haluan Negara. Jember: Universitas Jember.
Anggraini, P. D. S. N., & Yuspin, W. (2022). Dinamika Konfigurasi Politik terhadap Karakter Produk Hukum Era Pemerintahan Demokrasi di Indonesia. Madani: Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan, 14(1), 54-73.
Ansori, L. (2019). Haluan Negara sebagai Pedoman Kebijakan Dasar Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia: Sebuah Tinjauan Filsafat Kenegaraan. Justicia Islamica: Jurnal Kajian Hukum dan Sosial, 16(1), 79-102.
Aritonang, D. M. (2010). Penerapan Sistem Presidensil di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945. Mimbar Hukum, 22(2), 391-407.
Dawud, J. (2000). Sistem Pemerintahan Semi Parlementer dan Semi Presidentil di Perancis. Jurnal Wacana Kinerja, 8(2), 59-65.
Dicey, A. V. (2007). Pengantar Studi Hukum Konstitusi. (Nurhadi, Terjemahan). Bandung: Nusamedia.
Fajar, N. M. A. P. (2021). Urgensi Amandemen Terbatas Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN). Yustitia, 15(1), 96-104.
Gaffar, J. M. (2009). Kedudukan, Fungsi, dan Peran Mahkamah Konstitusi dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia. Surakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Hadi, S. (2015). Pengaruh Konfigurasi Politik Pemerintahan terhadap Produk Hukum. Addin: Media Dialektika Ilmu Islam, 9(2), 383-400.
Kusuma, R. M. A. B. (2010). Sistem Pemerintahan Sebelum dan Sesudah Amandemen. Jurnal Konstitusi, 1(1), 10-15.
Mahdi, I. (2017). Reformulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Model Garis-Garis Besar Haluan Negara. Al-Imarah: Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam, 2(1), 1-14.
Marbun, R., Nasution, A. I., & Apriani, W. (2021). Tinjauan Re-Eksistensi Yuridis Garis-Garis Besar Haluan Negara sebagai Pedoman Pembangunan Nasional. Soljustisio: Jurnal Penelitian Hukum, 3(1), 271-286.
Nugraha, H. S. (2019). Urgensi Garis Besar Haluan Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Veritas et Justitia, 5(1), 191-217.
Octovina, R. A. (2018). Sistem Presidensial di Indonesia. Cosmogov: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 4(2), 247-251.
Puspita, N. E. (2012). Strategi Politik dan Kemenangan Golkar di Semarang pada Pemilu 1971. Journal of Indonesian History, 1(1), 30-34.
Ramadani. (2020). Analisis Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Al-Qanun: Jurnal Kajian Sosial dan Hukum Islam, 1(4), 402-415.
Santio, E., & Nasution, B. J. (2021). Analisis Kewenangan Presiden Republik Indonesia di Bidang Legislatif Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Limbago: Journal of Constitutional Law, 1(1), 152-169.
Sasongko, A. (2019). Beda RPJP dan GBHN Menurut Prof Jimly. Diakses dari https://m.republika.co.id.
Simorangkir, R. R. D. (2021). Dinamika Perkembangan Golkar di Kota Medan: Golkar pada Pemilu 1971. Mukadimah: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-Ilmu Sosial, 5(2), 252-260.
Suharti, T. (1999). Strict Liability, Vicarious Liability, dan Kejahatan Ekonomi. Jurnal Perspektif: Kajian Masalah Hukum dan Pembangunan, 4(3), 31-36.
Sukadi, I. (2021). Sistem Pemerintahan Indonesia dan Implikasinya dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune, 4(1), 119-128.
Suwoto. (1990). Kekuasaan dan Tanggung Jawab Presiden Republik Indonesia (Suatu Penelitian Segi-Segi Teoritik dan Yuridik PertanggungJawaban Kekuasaan). Surabaya: Universitas Airlangga.
Widodo, H. (2001). Memahami Persoalan Sidang Istimewa. Diakses dari https://surabayapost.id.
Widodo, H., Tinambunan, H., & Puspoayu, E. (2019). Accountability of the President of the Republic of Indonesia according to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. 2nd International Conference on Social Science (ICSS 2019), 383(2019), 279-285.
Zaini, A. A., & Maturidi. (2021). Problematika Demokrasi Presidensil Pasca Perubahan Undang-Undang Dasar. JSIP: Jurnal Studi Ilmu Pemerintahan, 2(1), 54-63.
DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um019v7i2p447-457
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2022 Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
View My Stats










