Legal Implications of Incest Marriage in Balinese Customary Law

Ni Putu Ega Parwati, I Putu Ngurah Putu Wage Myartawan, I Nyoman Pasek Hadi Saputra, Ni Ketut Ni Sari Adnyani

Abstract


This study aims to discuss incest marriage in terms of marriage law, the legal implications of incest marriage, as well as the problems of customary law and national law governing incest marriage. This study uses empirical juridical research methods with a factual and sociological approach. Incest marriage has violated the provisions contained in Article 8 of Law Number 1 of 1974, Article 30 of the Civil Code, and Article 39 of the Compilation of Islamic Law which prohibits marriage between brothers and sisters who are still related by blood. The legal implications of incest marriage as stipulated in Article 22, Article 24, Article 26, and Article 27 of Law Number 1 of 1974 can be declared null and void. Incest marriage as a tradition that developed in Bonyoh traditional village is not in accordance with national law, but on the other hand customary law in force in the region does not prohibit incest marriage. The indigenous Bonyoh villagers consider incest marriages as an effort to preserve local traditions that have been passed down by ancestors over time


 


Keywords


incest marriage, customary law, Bali

Full Text:

PDF

References


Abrianto, B. O., Nugraha, X., & Grady, N.(2020). Perkembangan Gugatan Perbuatan Melanggar Hukum oleh Pemerintah Pasca

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014. Jurnal Negara Hukum, 11(1), 43-62.

Abubakar, L. (2013). Revitalisasi Hukum Adat sebagai Sumber Hukum dalam Membangun Sistem Hukum Indonesia. Jurnal Dinamika Hukum, 13(2), 319-331.

Adnyani, N. K. S. (2016). Bentuk Perkawinan Matriarki pada Masyarakat Hindu Bali Ditinjau dari Perspektif Hukum Adat dan Kesetaraan Gender. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 5(1), 754-769.

Adnyani, N. K. S. (2017). Sistem Perkawinan Nyentana dalam Kajian Hukum Adat dan Pengaruhnya terhadap Akomodasi Kebijakan Berbasis Gender. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 6(2), 168-177.

Adnyani, N. K. S. (2019). Status of Women After Dismissed from Mixed Marriage in Bali’s Law Perspective. Ganesha Law Review, 1(2), 73-89.

Adnyani, N. K. S. (2021). Perlindungan Hukum Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Pengelolaan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal. Media Komunikasi FPIPS, 20(2), 70-80.

Artadi, I. K. (2006). Hukum dalam Perspektif Kebudayaan. Denpasar: Offset BP Denpasar.Arunde, R. M. M. (2018). Tinjauan Yuridis

tentang Perkawinan Sedarah menurut UU Nomor 1 Tahun 1974. Lex Privatum, 6(2), 102-109.

Dirdjosisworo, S. (2014). Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Duarsa,

I. G. Y. P., Sugiartha, I. N. G., & Sudibya, D. G. (2020). Penerapan Sanksi Adat Kasepekang di Desa Adat Tanjung Benoa Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung. Jurnal Konstruksi Hukum, 1(1), 170-175.

Emeralda, N. R., & Hamidah, S. (2022). Rekonstruksi Pencatatan Perkawinan Berdasarkan Relevansi antara Hukum Administrasi Negara dengan Hukum Administrasi Sipil. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 7(1), 87-98.

Haipon, H., & Due, M. Y. (2022). Perkawinan menurut Hukum Adat Lio dan Larangan Perkawinan Sedarah (Incest) Ditinjau dari UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan Perubahan Atas UU No. 1 Tahun 1974

Kecamatan Wolojita Kabupaten Ende. Judakum: Jurnal Dedikasi Hukum, 1(2), 117-136.

Hermanto, A. (2016). Larangan Perkawinan: Dari Fikih, Hukum Islam, hingga Penerapannya dalam Legislasi Perkawinan Indonesia. Yogyakarta: Lintang Rasi Aksara Books.

Indrayanti, Putri, I. G. A. A., & Sukisno, D. (2007). Sistem Perkawinan menurut Desa Adat Tenganan Pegringsingan Kabupaten Karangasem Bali. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Maharani, P. (2018). Status Kedudukan Anak dari Pembatalan Perkawinan Sedarah (Incest) Ditinjau dari UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Jurnal Kertha Patrika, 40(2), 122-130.

Maladi, Y. (2010). Eksistensi Hukum Adat dalam Konstitusi Negara Pasca Amandemen. Mimbar Hukum, 22(3), 450-464.

Marzuki, P. M. (2011). Metode Penelitian Hukum Empiris. Jakarta: Kencana.

Pimadona, A., & Mulati. (2019). Keabsahan Perkawinan Sedarah Masyarakat Adat Batak Toba menurut Hukum Adat. Jurnal Hukum Adigama, 2(1), 1-26.

Prasetyarini, L. I., & Sutrisni, N. K. (2023). Penerapan Sanksi Adat pada Larangan Perkawinan Eksogami di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Jurnal Hukum Mahasiswa, 3(1), 824-837.

Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002

tentang Perlindungan Anak. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 297. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5606.

Republik Indonesia. (2019). Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974

tentang Perkawinan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 186. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6401.

Rideng, I. W. (2022). Local Legal Products of the Province of Bali Provincial Government Strengthened and Empowered Local Wisdom.

Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 7(2), 468-478.

Suastika, I. N. (2016). Perkawinan Beda Agama Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Hukum Adat di Bali (Studi Kasus di Desa Tangguwisia Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng). Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 5(2), 828-834.

Sudarma, I. P., & Wisuda, P. P. T. (2018). Sanksi Adat pada Larangan Perkawinan Exogami di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan,

Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, 9(1), 14-32.

Sudarsono. (1991). Hukum Perkawinan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Susanti, D. O., & Efendi, A. (2013). Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.

Syamsudin, M. (2008). Beban Masyarakat Adat Menghadapi Hukum Negara. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 15(3), 338-351.

Tilome, A. A., & Alkatiri, R. (2020). Makna Perkawinan Sedarah bagi Warga Suku Polahi di Indonesia. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya, 6(2), 123-134.

Willikin, I. W. (2014). Kajian Hukum Perkawinan Nasional terhadap Larangan Perkawinan antara Hubungan Pela di Maluku Tenggara.

Lex Privatum, 2(1), 59-67.




DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um019v8i3p234-244

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

  

View My Stats