Terdegradasinya otoritas Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, 1968-1998

Nur Fadilah Yusuf

Abstract


Abstract

In many cases, the struggle for space becomes a contestation that invites academics and the public to see what is happening in it. The Jakarta Arts Council and the local government in Jakarta are a clear example of the struggle for space that took place at Taman Ismail Marzuki. In fact, this arts center was built based on discussions between artists and the governor at that time, but after the change of power, policies also changed so that the adjustment between patron-client experienced adaptations that must be understood in a historical context. This research uses the historical method as a stage to reconstruct historical events in a writing. In the end, through history, we can know what is happening today about the authority of the Jakarta Arts Council at the Jakarta Arts Center Taman Ismail Marzuki is a process of struggle between art and politics in the hegemonic New Order era. Therefore, this article also discusses chronologically the degradation of the authority of the Jakarta Arts Council in Taman Ismail Marzuki caused by several factors such as political policies and governor changes, as well as government bureaucratic intervention in the arts. 

Abstrak

Dalam banyak kasus, perebutan ruang menjadi satu kontestasi yang mengajak kaum akademisi dan masyarakat untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya. Dewan Kesenian Jakarta dan pemerintah daerah di Jakarta adalah contoh nyata terkait dengan perebutan ruang yang terjadi di Taman Ismail Marzuki. Padahal, pusat kesenian ini, dibangun atas diskusi antara para seniman dengan gubernur waktu itu, tetapi setelah pergantian kekuasaan, kebijakan juga ikut berganti sehingga penyesuaian antara patron-klien mengalami adaptasi yang harus dipahami dalam konteks sejarah. Penelitian ini menggunakan metode sejarah sebagai tahapan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah dalam sebuah tulisan. Pada akhirnya, melalui sejarah, kita dapat mengetahui apa yang terjadi hari ini tentang otoritas Dewan Kesenian Jakarta di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki adalah proses pergulatan antara seni dan politik pada era Orde Baru yang menghegemoni. Maka dari itu, artikel ini juga membahas secara kronologi terkait dengan terdegradasinya otoritas Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti politik kebijakan dan pergantian gubernur, serta intervensi birokrasi pemerintahan di pusat kesenian.


Keywords


Jakarta Arts Council; Taman Ismail Marzuki; arts center; new order

Full Text:

PDF

References


Acciaioli, G. (1985). Culture as Art: From Practice to Spectacle in Indonesia. Canberra Anthropology, 8(1), 148–172.

Alisjahbana, et. al. (1993). Pusat Kesenian Jakarta : Taman Ismail Marzuki = The Jakarta Arts Center. Yayasan Kesenian Jakarta.

Anwar, A. S. (2012). Perkembangan Teater Kontemporer Indonesia 1968-2008. Universitas Indonesia.

Asy’ari, A. Wawancara Pribadi.25 Januari, 2024

Aulia, D. (2016). Penguatan Demokrasi: Partai Politik dan (Sistem) Pemilu Sebagai Pilar Demokrasi. Masyarakat Indonesia, 42(1), 115–126. https://doi.org/10.14203/jmi.v42i1.362

Bardis, P. D. (1979). Social Interaction and Social Processes. Social Science, 54(3), 147–167. https://www.jstor.org/stable/41886414

Barker, C. (2000). Cultural Studies: Teori dan Praktik. Bentang Pustaka.

Basundoro, P. (2015). The Two Alun-alun of Malang 1930-1960. In Cars, Conduits, and Kampongs: The Modernization of the Indonesian City, 1920-1960. Brill.

Berger, M. T. (1997). Old State and New Empire in Indonesia: Debating the Rise and Decline of Suharto’s New Order. Third World Quarterly, 18(2), 321–361. https://www.jstor.org/stable/3993226

Bourchier, D. (1998). Indonesianising Indonesia: Conservative Indegenism in an age of Globalisation. Social Semiotics, 8(2–3), 203–214. https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/10350339809360408?casa_token=V29REvAeh_gAAAAA:GCuv7ZsyPpoewbm3g_lE-VmEn0JTZm4z19-kV2ZHp1U2VeLvn3mvf8xA8WZqAoKR26vMO_dpQNjJLUloSA

Burke, P. (2015). Sejarah dan Teori Sosial. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Biran, M.Y. (2016). Keajaiban di Pasar Senen. Kepustakaan Popular Gramedia.

Denisoff, R. S. (1966). Songs of Persuasion: A Sociological Analysis of Urban Propaganda Songs. The Journal of American Folklore, 79(314), 581–589. https://doi.org/10.2307/538223

Dewi, C. S. (2017). Peran Taman Ismail Marzuki Terhadap Perkembangan Seni Rupa Kontemporer Indonesia: Kajian Peristiwa Pameran Seni Rupa era 1970-an. Jurnal Seni Nasional Cikini, 2(2), 7–17. https://doi.org/10.52969/jsnc.v2i2.51

Ford, L. R. (1993). A Model of Indonesian City Structure. Geographical Review, 83 (4), 374–396. https://doi.org/10.2307/215821

Foucault, M. (1980). Truth and Power. In Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972-1977. Harvester Press.

Gunn, G. C. (1979). Ideology and the Concept of Government in the Indonesian New Order. Asian Survey, 19(8), 751–769. https://doi.org/10.2307/2643719

Hadimadja, R. K. (2012). Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi. Ufuk Press.

Hill, D. T. (1993). The Two Leading Institutions’: Taman Ismail Marzuki and Horison. In Culture and Society in New Order Indonesia. Oxford University Press.

Jones, T. (2012). Indonesian Cultural Policy in the Reform Era. Indonesia, 93, 147–176. https://www.jstor.org/stable/10.5728/indonesia.93.0147

Jones, T. (2015). Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia: Kebijakan Budaya Selama Abad ke-20 hingga era Reformasi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Kaplan, H. B. (1960). The Concept of Institution: A Review, Evaluation and Suggested Research Procedure. Social Forces, 39(2), 176–180. https://www.jstor.org/stable/2574158

Karsono, S. (2022). The City, the Body and the World of Things. Bijdragen Tot de Taal-, En Volkenkunde, 178(2), 192–224. https://www.jstor.org/stable/48673678

Kompas. (1968a, June 5). Pengurus Harian Dewan Kesenian DCI Djaya.

Kompas. (1968b, November 11). Taman “Ismail Marzuki” Diresmikan.

Kompas. (1978, April 28). Pembacaan Sajak Rendra.

Kompas. (1983, August 12). Pasar dan Bukan Pasar Apa Bedanya.

Kompas. (1990, November 9). WS. Rendra: Izin pembacaan puisi tak kunjung keluar.

Kompas. (1992, April 20). Forum Demokrasi.

Kompas. (1998, May 21). Seniman Dukung Pak Harto Turun.

Kuntowijoyo. (2013a). Metodologi Sejarah. Tiara Wacana.

Kuntowijoyo. (2013b). Pengantar Ilmu Sejarah. Tiara Wacana.

Manua, J. R. (2010). Catatan Pribadi.

Manua, J. R. Wawancara Pribadi. 23 Desember, 2023.

McIntyre, A. (1972). Divisions and Power in the Indonesian National Party, 1965-1966. Indonesia, 13, 183–210. https://doi.org/10.2307/3350686

Moertopo, A. (1974). Strategi Kebudayaan. Yayasan Proklamasi CSIS.

Murgiyanto, S. (1994). Perjalanan Taman Ismail Marzuki. In 25 Tahun Pusat Kesenian Jakarta. Yayasan Kesenian Jakarta.

Nas, P. J. M. (1992). Jakarta, City Full Symbols: An Essay in Symbolic Ecology. Journal of Social Issues in Southeast Asia, 7(2), 175–207. https://www.jstor.org/stable/41056849

Majalah Budaja Djaja No. 122 Tahun XI. (1978, July)

Majalah Prisma No. 3 Tahun XIII. (1984, March)

Majalah Prisma No. 5 Tahun XVII. (1988, May)

Majalah Horison No. 11 Tahun XII. (1977, November)

Majalah Horison No. 6 Tahun XXXII. (1998, June)

Peursen, V. (1976). Strategi Kebudayaan. Penerbit Kanisius.

Rinjani, N. F. (2020). Perubahan Peran Seniman dalam Dinamika Ruang Publik di Taman Ismail Marzuki (1968-2018). Umbara: Indonesian Journal of Anthropology, 5(1), 1–15. https://jurnal.unpad.ac.id/umbara/article/view/28268/13647

Rosidi, A. (1974). Taman Ismail Marzuki. Dewan Kesenian Jakarta Cipta.

Rosidi, A. (2006). Ali Sadikin dan Kesenian. IKJ Press.

Schuster, G., & Breña, M. O. (2015). The Concept of the Visible between Art and Politics. Latin American Perspectives, 42(1), 84–94. http://www.jstor.org/stable/24573954

Sinar Harapan. (1995, November 11). 27 tahun TIM perlu pembenahan. Sinar Harapan.

Supartono, A. (2000). Lekra vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965. STF Driyarkara.

Trianasari, R. M. (2019). Peristiwa Desember Hitam 1974: Perlawanan Seniman Terhadap Kemapanan Seni. Universitas Indonesia.

Usman, A. Wawancara Pribadi. 13 Desember, 2023.

Vickers, A. (1997). Malay Identity: Modernity, Invented Tradition and forms of Knowledge. RIMA, 31, 173–212. https://search.informit.org/doi/abs/10.3316/ielapa.980706728

Wie, T.K. (2007). Indonesia’s Economic Performance under Soeharto’s New Order. Seoul Journal of Economics. 20 (2), 263-281. http://sje.ac.kr/xml/28419/28419.pdf




DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um081v4i22024p156-169

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2024 Historiography: Journal of Indonesian History and Education

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Historiography: Journal of Indonesian History and Education is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

JOIN Indexed By:

        Akreditasi Sinta Jurnal Fluida | Fluida

Flag Counter

Web Analytics Made Easy - Statcounter View My Stats