ANALISIS STRUKTUR DRAMATIK WAYANGGOLEK BABON MAHABRATA

Monita Precillia

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur dramatik dalam pertunjukan Wayang Golek Babon Mahabharata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yang meliputi pengamatan langsung terhadap pertunjukan serta analisis teks dan konteks budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dramatik Wayang Golek Babon Mahabharata terdiri dari elemen-elemen Cerita, Bahasa dan Sastra Padalangan, Antawacana, Pola Tari, Pola dramatik pedalangan, Teori penyutradaraan, Laku dramatik, Kontruksi pentas yang saling terkait. Temuan utama dari penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan simbolisme dan karakterisasi dalam pertunjukan tidak hanya memperkaya narasi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai moral dan filosofis yang terkandung dalam epik Mahabharata. Selain itu, interaksi antara dalang dan penonton berperan penting dalam membangun dinamika cerita, sehingga menciptakan pengalaman estetis yang mendalam. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman dan pelestarian seni pertunjukan tradisional Indonesia. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Wayang Golek Babon Mahabharata tidak hanya merupakan seni pertunjukan, tetapi juga media yang efektif untuk menyampaikan ajaran moral dan budaya kepada masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman dan pelestarian seni pertunjukan tradisional Indonesia.

Full Text:

PDF

References


Ardika, K. (2023). Pendidikan Susila Dalam Cerita Udyoga, Bhisma, Dan Drona Parwa Mahābhārata Sebagai Landasan Pembentuk Siswa Suputra. Metta : Jurnal Ilmu Multidisiplin, 3(4), 439–451. https://doi.org/10.37329/metta.v3i4.2901

Atik, S. (1988). Tetekon Padalangan Sunda. Perum Balai Pustaka.

Cahya. (2017). Nilai, Makna, dan Simbol dalam Pertunjukan Wayang Golek sebagai Representasi Media Pendidikan Budi Pekerti. Panggung, 26(2). https://doi.org/10.26742/panggung.v26i2.170

Darmadi, D., & Precillia, M. (2023). PERTUNJUKAN SENI BENJANG ANAK SEBAGAI EDUKASI MEMBANGUN KARAKTER ANAK-ANAK DESA CIPOREAT. JADECS (Journal of Art, Design, Art Education & Cultural Studies), 8(2), 222. https://doi.org/10.17977/um037v8i22023p222-232

Dwi, S. M. S. (2021). Struktur Dramatik Lakon Baratayuda Episode Bisma Gugur Sajian Joko Santosa. Lakon Jurnal Pengkajian & Penciptaan Wayang, 18(2).

Halimah, L., Arifin, R. R. M., Yuliariatiningsih, M. S., Abdillah, F., & Sutini, A. (2020). Storytelling through “Wayang Golek” puppet show: Practical ways in incorporating character education in early childhood. Cogent Education, 7(1). https://doi.org/10.1080/2331186X.2020.1794495

Hazeu, G. A. J. (1979). Kaweruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agama Ing Jaman Kina. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (1984). Qualitative data analysis: A sourcebook of new methods. Sage Publications.

Murtiyoso, B., & Et.al. (2007). Teori Pedalangan. ISI Surakarta.

Nuriarta, I. W., Darma Putra, I. N., Suarka, I. N., & Sari, I. A. L. (2024). REPRESENTATION OF BALINESE CULTURE IN GUN GUN’S MAHABHARATA EPIC PUPPET COMIC. E-Journal of Cultural Studies, 17(2), 1. https://doi.org/10.24843/cs.2024.v17.i02.p01

Pandin, M. G. R. (2020). Moral-Ethics-Belief Values Towards Indonesian Puppet (Wayang Kulit) Performance Arts. Universidad Del Zulia, 25(1), 515–521. https://doi.org/https://doi.org/:10.5281/zenodo.3784909

Prakoso, I. (2024). MOCK IMPOLITENESS AND SYMBOLIC INTERACTIONISM IN KI SENO NUGROHO’S JAVANESE SHADOW PUPPET SHOW. LLT Journal: A Journal on Language and Language Teaching, 27(2), 712–728. https://doi.org/10.24071/llt.v27i2.8190

Pranoto, D. (2019). STRUKTUR DRAMATIK WAYANG LOGDRO LAKON KARNA TANDHING SAJIAN BLACIUS SUBONO. INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA.

Precillia, Monita; (2023). Pertunjukan Tari Piring Kumun Sebagai Representasi Sosiologi Gender dan Upaya Pelestarian Adat Budaya Kerinci. Jurnal Sendratasik, 12(3), 364. https://doi.org/10.24036/js.v12i3.124845

Precillia, Monita. (2024). Peran Folklor dalam Pembentukan dan Pemeliharaan Identitas Budaya Masyarakat Kumun Debai: Sebuah Analisis Etnografis. Jurnal Sendratasik, 13(2), 48. https://doi.org/10.24036/js.v13i2.129217

Precillia, Monita, & Darmadi, D. (2022). WOMEN’S STUDY ON RANDAI SI RABUANG AMEH, AS AN EXISTENCE OF RANDAI DEVELOPMENT IN MINANGKABAU. Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Karya Seni, 24(2), 207–228. https://doi.org/10.26887/EKSPRESI.V24I2.2256

R.M.Soedarsono. (1999). Seni Pertunjukan Indonesia Di Era Globalisasi. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Rustopo. (1990). Gendhon Humardani (1923-1983) Arsitek dan Pelaksanaan Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa yang Moderen Mengindonesia Suatu Biograf. Universitas Gajah Mada.

Sabunga, B., Budimansyah, D., Sauri, S., & Sanusi, A. (2014). Wayang Golek education values: Their potential to strengthen nationalism. International Journal of Education and Management Studies, 4(4), 287–292.

Santoso, T., & Setyawan, B. (2019). Wayang Golek Menak: Wayang Puppet Show as Visualization Media of Javanese Literature. Proceedings of the Proceedings of the 1st Seminar and Workshop on Research Design, for Education, Social Science, Arts, and Humanities, SEWORD FRESSH 2019, April 27 2019, Surakarta, Central Java, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.27-4-2019.2286930

Sedana, I. N. (2019). Triadic Interplay: A Model of Transforming Literature into Wayang Theatre. Southeast Asian Review of English, 56(1), 11–25. https://doi.org/10.22452/SARE.vol56no1.3

Soetarno. (2010). Wayang dan Perkembangannya. Ekspresi Indonesia Art Jurnal, 10(2). https://doi.org/https://doi.org/10.24821/ekp.v10i2.12353

Sugiyono. (2017). Metode penelitian Kuantitatif. ALFABETA.

Supriyanto. (2023). Form and Structure of the Performing Arts of Mask Puppet (Wayang Topeng) Yogyakarta Style. Arts and Design Studies, 108. https://doi.org/10.7176/ADS/108-01

Susilo, P. (2018). Estetika Pertunjukan Wayang Golek Menak Purbalingga Lakon Kendhit Brayung Gugur Sajian Ki Supadi Hadimihardjo [Institut Seni Indonesia Surakarta]. http://repository.isi-ska.ac.id/3442/1/Puji Susilo_14123117_ok.pdf

Towards Re-enchantment of the Wayang Puppet Theatre: Puppeteers as Agents of Morality in the Contemporary Indonesian Society. (2023). International Society for the Study of Vernacular Settlements, 10(11), 277–293. https://doi.org/10.61275/ISVSej-2023-10-11-18

Wibawa, A. B. (2024). Analyzing the Evolution of Indonesian Wayang Puppetry and Its Fusion with Modern Theater and Performance Arts. Studies in Art and Architecture, 3(1), 1–9. https://doi.org/10.56397/SAA.2024.03.01

Widagdo, T., Djatmika, D., & Yustanto, H. (2020). Analysis Characteristics of Antawacana as Reflections on the Character of Werkudara in Wayang Purwa. Proceedings of the Proceedings of the Third International Seminar on Recent Language, Literature, and Local Culture Studies, BASA, 20-21 September 2019, Surakarta, Central Java, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.20-9-2019.2296757




DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um037v10i12025p13-22

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

minionslot88

msot88

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

barbartoto

slot demo

barbartoto