Sejarah banjir Bekasi 1924-2002

Surya Zainul Lutfi

Abstract


Banjir dan Bekasi sudah menjadi dua hal yang hampir mustahil dipisahkan. Sejarah mencatat banjir sudah terjadi di Bekasi sejak masa Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-5 Masehi yang dituliskan dalam Prasasti Tugu. Pada masa kolonial, banjir di Bekasi selalu melanda setiap musim penghujan tiba. Kondisi ini terus berlanjut hingga pasca Reformasi, bahkan saat ini. Seringnya banjir melanda Bekasi membuat pemerintah yang berkuasa saat itu harus menemukan cara untuk melakukan penanggulangan banjir yang melanda. Tulisan ini berusaha mendeskripsikan sejarah banjir sejak masa kolonial dan mengetahui bagaimana upaya pemerintah Bekasi dalam menangani permasalahan banjir yang sering terjadi. Penulisan artikel ini menggunakan metode sejarah dengan melakukan pembacaan mendalam berbagai sumber, seperti koran, foto, artikel dan buku. Hasil penelitian menunjukan jika banjir yang terjadi di Bekasi disebabkan oleh tingginya curah hujan, terjadinya alih fungsi lahan secara berlebihan serta ketidakmampuan pemerintah dalam melakukan pengelolaan sumber daya air. Selain itu mitigasi banjir yang dilakukan pemerintah dari masa kolonial hingga masa reformasi masih kurang maksimal. Terbukti dari banjir yang tetap terjadi hingga kini dengan intensitas yang lebih sering.

 

Floods and Bekasi have become two things that are almost impossible to separate. History records that flooding has occurred in Bekasi since the time of the Tarumanegara Kingdom in the 5th century AD which was written in the Tugu Inscription. In colonial times, floods in Bekasi always hit every rainy season. This condition has continued until after the Reformation, even today. The frequent floods that hit Bekasi forced the government in power at that time to find a way to deal with the floods that hit. This paper attempts to describe the history of flooding since the colonial period and to find out how the Bekasi government's efforts to deal with frequent flooding problems. The writing of this article uses the historical method by doing in-depth reading of various sources, such as newspapers, photographs, articles and books. The results of the study show that the flooding that occurred in Bekasi was caused by high rainfall, excessive land conversion and the government's inability to manage water resources. In addition, flood mitigation carried out by the government from the colonial period to the reformation period was still not optimal. This is evidenced by the floods that have continued to occur to this day with more frequent intensity.


Keywords


sejarah banjir, Bekasi, upaya mitigasi

References


Algemeen Handelsblad Voor Nederlandsch-Indie. (1932, Januari 4). De bandjir in het Krawangsche.

Algemeen Handelsblad Voor Nederlandsch-Indie. (1933, Maret 18). Overstroomingen nemen vorm van ramp aan.

Algemeen Indisch Dagblad de Preangerbode. (1957, Februari 7). Irrigatiewerken in voorbereiding.

Badan Pusat Statistik Kota Bekasi. (2021). Kota Bekasi dalam angka 2021. BPS Kota Bekasi.

Bataviaasch Nieuwsblad. (1926, Januari 29). Overstrooming bij Bekassi. Bataviaasch Nieuwsblad.

Bataviaasch Nieuwsblad. (1934, Januari 31). Hong water bij Tjikarang.

Bevloeiingswerken in De Afdeelingen Bantam, Batavia en Buitenzorg No. 2235/IOE/3. (1926).

Bintang Timur. (1961a, Januari 23). 12518 Ha tanah digenangi air akibat bobolnja Tanggul Tjibeet.

Bintang Timur. (1961b, Januari 24). Laporan terakhir tentang Bandjir di Bekasi.

Boomgaard, P., Colombijn, F., & Henley, D. (Ed.). (1997). Paper landscapes: Explorations in the environmental history of Indonesia. KITLV Press.

Coppola, D. P. (2007). Introduction to international disaster management. Butterworth–Heinemann.

Damayanti, N. P. (2020). Pembangunan kanal dan pertumbuhan sosial-ekonomi di Batavia 1918-1933. Walasuji Jurnal Sejarah dan Budaya, 11(1), 129–140. http://dx.doi.org/10.36869/wjsb.v11i1.65

De Indische Courant. (1924, Maret 24). Overstrooming bij Bekassi.

De Indische Courant. (1933, Maret 18). Uit geteisterd West en Midden Java.

De Koerier. (1933, Maret 18). Het noodweer van donderdagnacht.

De Telegraaf. (1924, April 25). Een overstrooming bij Batavia.

De Volkskrant. (1961, Januari 24). 211.600 vluchtelingen grote bandjir bij Djakart. De Volkskrant.

Deli Courant. (1924, Maret 26). De bandjir te Bekassie.

Deli Courant. (1926, Januari 29). Groot bandjirschade.

den brief van het Hoofd der bevl werken in de afdelling Bantam, Batavia en Buitenzorg No. EQ 10/1/2. (1928).

Djunit, N., & Aziz, M. R. A. (2020). (Studi Kasus di Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi). Jurnal Ilmiah Plano Krisna, 16(2), 220–231.

Ferdiansyah, F., Sugiarti, C., & Atthahara, H. (2020). Analisis penanggulangan bencana banjir oleh badan penanggulangan bencana daerah Kota Bekasi. Administratio: Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 11(2), 67–78. https://doi.org/10.23960/administratio.v11i2.160

Findayani, A. (2015). Kesiap siagaan masyarakat dalam penanggulangan banjir di Kota Semarang. Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian, 12(1), 102–114. https://doi.org/10.15294/jg.v12i1.8019

Giarno, G., Dupe, Z. L., & Mustofa, M. A. (2012). Kajian awal musim hujan dan awal musim kemarau di Indonesia. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 13(1), 1–8. https://doi.org/10.31172/jmg.v13i1.113

Hafizhan, A. (2020). Analisis faktor-faktor penyebab banjir di Kota Bekasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Harsoyo, B. (2013a). Mengulas penyebab banjir di wilayah DKI Jakarta dari sudut pandang geologi, geomorfologi dan morfometri sungai. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 14(1), 37–43. https://doi.org/10.29122/jstmc.v14i1.2680

Harsoyo, B. (2013b). Mengulas penyebab banjir di wilayah DKI Jakarta dari sudut pandang geologi, geomorfologi dan morfometri sungai. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 14(1), 37. https://doi.org/10.29122/jstmc.v14i1.2680

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. (1926, Januari 25). Westmoesson-wee.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. (1933, Maret 20). Door het gebied van den watersnood.

Husain, S. B. (2016). Banjir, pengendaliannya, dan partisipasi masyarakat di Surabaya, 1950-1976. Jurnal Masyarakat & Budaya, 18(1). https://doi.org/10.14203/jm¬b.v18i1.341

Kadri, T. (2008). Flood defense in Bekasi City, Indonesia. Flood Recovery, Innovation and Response I, I, 133–138. https://doi.org/10.2495/FRIAR080131

Kompas. (1977a, Januari 24). Banjir Bekasi: 1 meninggal, 5.700 rumah dan 7.000 hektar sawah tergenang.

Kompas. (1977b, Februari 25). 3 Kabupaten di Jabar dilanda banjir.

Kompas. (1978, April 17). Saluran Cikarang-Bekasi-Laut, hadapi dua masalah pokok.

Koran Tempo. (2002, Januari 31). Saatnya warga elit pun mengungsi dari banjir.

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar ilmu sejarah. Tiara Wacana.

Kusnawan, E. (2016). Sejarah Bekasi sejak Peradaban Buni hingga Wayah Gini. Herya Media.

Maliano, D. Rohmat, & D. Sungkawa. (2016). Kerentanan banjir tahunan dan adaptasi masyarakat di Kecamatan Bekasi Barat Kota Bekasi. Antologi Pendidikan Geografi, 4(2), 2–12.

McNeill, J. R. (2003). Observations on the nature and culture of environmental history. History and Theory, 42(4), 5–43. https://doi.org/10.1046/j.14682303.200-3.00255.x

Media Indonesia. (1996, Maret 29). Memperparah banjir di Botabek, ratusan hektar situ berubah fungsi.

Media Indonesia. (2002, Januari 30). Sang bayi pun enggan lagi menyusu “ya Tuhan, kapan hujan ini berakhir?”

Muanas, D. (1998). Arsitektur tradisional daerah Jawa Barat. CV. Pialamas Permai.

Nawiyanto. (2014). Gerakan lingkungan di Jawa Masa Kolonial. Paramita, 24(1), 31–46.

Octavianti, T., & Charles, K. (2019). The evolution of Jakarta’s flood policy over the past 400 years: The lock-in of infrastructural solutions. Environment and Planning C: Politics and Space, 37(6), 1102–1125. https://doi.org/10.1177/23996¬54418813578

Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant. (1933, April 4). De bandjir in West-Java.

Rahayu, N. D., Sasmito, B., & Bashit, N. (2018). Analisis pengaruh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) terhadap curah hujan Di Pulau Jawa. Jurnal Geodesi Undip, 7(1), 57–67.

Ramadiansyah, P. C. (2022). Bekasi pada Masa Kolonial (1925-1945). Historia Madania, 6(1), 64–75.

Republika. (2002, Januari 30). Banjir di mana-mana.

Ridhoi, R., Hudiyanto, R., Jauhari, N., Nuriansyah, J., Fani, D., Restanti, N., Illahi, N., Novel, M., & Hadi, A. (2021). Sejarah banjir Sampang, 1872—2020. Java Creative.

Rosyidie, A. (2013). Banjir: Fakta dan dampaknya, serta pengaruh dari perubahan guna lahan. Journal of Regional and City Planning, 24(3), 241.

Sinar Harapan. (1978, Januari 2). Daerah Bekasi siaga hadapi bahaya banjir.

Sopandi, A. (2009). Sejarah dan budaya Kota Bekasi. Dinas, Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Kepariwisataan, Pemerintahan Kota Bekasi.

Suara Pembaruan. (1996, Maret 8). Banjir melanda permukiman di Bekasi, siapa yang bersalah.

Wibowo, S., & Rosalina, S. (2019). Pragmatic view on the inscription heritage of Tarumanegara Kingdom. Proceedings of the First International Conference on Advances in Education, Humanities, and Language, ICEL 2019, Malang, Indonesia, 23-24 March 2019. First International Conference on Advances in Education, Humanities, and Language, ICEL 2019, Malang, Indonesia, 23-24 March 2019, Malang, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.23-3-2019.2284952




DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v17i22023p257-271

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Editorial office:
History Department, Faculty of Social Science,
Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145,  
Phone. (0341) 551312,
email: jsb.journal@um.ac.id
Website: http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya

P-ISSN 1979-9993
E-ISSN 2503-1147

  Creative Commons License
This work is licensed under a CC BY SA 4.0.

Web
Analytics Made Easy - StatCounter

View My Stats 

Flag Counter