Dari pendudukan hingga perampasan lahan: Konflik agraria di wilayah perkebunan lereng selatan Kelud, Blitar 1945-1966
Abstract
Penelitian ini mengkaji konflik agraria di perkebunan lereng selatan Gunung Kelud, Blitar. Berangkat dari maraknya konflik agraria di wilayah ini, riset ini menelusuri fenomena pendudukan dan perampasan lahan yang terjadi pada tahun 1945–1965. Menggunakan metode sejarah yang mencakup heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi, penelitian ini menganalisis arsip, koran, dan majalah. Hasilnya menunjukkan bahwa konflik dipicu oleh pengembalian hak erfpacht kepada perusahaan kolonial, yang ditentang masyarakat melalui pendudukan lahan dengan dukungan gerakan kiri. Namun, kebijakan nasionalisasi justru membuka peluang bagi militer dan pengusaha lokal untuk merebut lahan yang telah diduduki. Pasca-1965, represi politik digunakan untuk menghilangkan hak petani dengan tuduhan keterlibatan dalam gerakan kiri. Akibatnya, banyak petani kehilangan akses tanah, yang kemudian dikuasai perusahaan melalui Hak Guna Usaha (HGU).
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Aditya, H. (2021). Peristiwa Blitar 1950 perseteruan Brigade S dan Trip. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië. (1935, Desember 19). Een tocht door Blitar.
Aprianto, T. C. (2016). Perjuangan landreform masyarakat perkebunan: Partisipasi politik, klaim, dan konflik agraria di Jember. STPN Press.
Arsip Nasional Republik Indonesia. (1995). Arsip tekstual Menteri Negara Agraria - Badan Pertanahan Nasional (BPN) 1932-1999 ANRI No Inv 467. Arsip Nasional Republik Indonesia.
Azizah, S. K. (2020). Protes petani terhadap perkebunan Rotorejo Kruwuk di Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar tahun 1964-2016. Skripsi: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.
Berita Organisasi Sarbupri. (1955, Desember 5). Sarbupri gambar siap lakukan instruksi DPP.
Berita Yudha. (1965, November 30). Gerakan 1,7 usaha sabotage gerombolan kontra-revolusioner G30/S/PKI.
Brinkman’s cultuur-adresboek voor Nederlandsch-Indië. (1937). Amsterdam: J.H. de Bussy.
Darini, R., & Miftahuddin, M. (2018). Nasionalisasi perusahaan asing di Jawa Timur 1950-1966. Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah, 9(1).
De Tijd: Godsdienstig-Staatkundig Dagblad. (1949, Oktober 15). Java-ondernemingen.
De vrije pers: ochtendbulletin. (1950, Juli 4). In het Kedirise: Twintig ondernemingen teruggegeven.
Dinas Kearsipan dan perpustakaan Jawa Timur. (1998). Surat dari Sekretaris Desa di Kabupaten Blitar tentang permohonan keterangan tentang proses penerbitan Hak Guna Perkebunan Gambar Inv 2676, 1998.
Gottschalk, L. (1986). Mengerti sejarah. Jakarta.
Harian Abadi. (1951, Juni 27). Perselisihan soal tanah.
Hearman, V. (2024). Makam tanpa nama: Mati dan bertahan di tengah kekerasan antikomunis di Jawa Timur. Footnote Press.
Het Nieuwsblad Voor Sumatra. (1950, Juni 20). HVA oefent scherpe critiek op fin economische maatregelen.
Iftitah, A. (2021). Konflik agraria: Seri pelaksanaan hukum tanah terindikasi terlantar di Blitar. Guepedia.
Java Bode. (1957, Agustus 10). Stakingsdreiging in Oost Java.
Keppy, P. (2010). The Politics of redress: War damage compensation and restitution in Indonesia and the Philippines. BRILL. https://doi.org/10.1163/9789-004253735
Khasanah, B. I., & Sasmita, N. (2014). Reclaiming Nyunyur’s Plantation by Soso’s Village Society District Gandusari Blitar Regency 1964-2014. Skripsi universitas Jember.
Knight, G. R. (2012). From Merdeka! to massacre: The politics of sugar in the early years of the Indonesian republic. Journal of Southeast Asian Studies, 43(3), 402–421. https://doi.org/10.1017/S0022463412000318
Kuntowijoyo. (2005). Pengantar ilmu sejarah. Bentang Pustaka.
Leksana, G. T. (2023). Memory Culture of the anti-leftist violence in Indonesia: Embedded remembering. Amsterdam University Press. https://doi.org/10.5117/97¬89463723565
Lund, C. (2021). Nine-tenths of the law: Enduring dispossession in Indonesia. Yale University Press. https://doi.org/10.2307/j.ctv1b0fw9d
Lund, C., & Rachman, N. F. (2016). Occupied! property, citizenship and peasant movements in Rural Java. Development and Change, 47(6), 1316–1337. https://do¬i.org/10.1111/dech.12263
Luthfi, A. N. (2018). Kekerasan Kemanusiaan dan Perampasan Tanah Pasca- 1965 di Banyuwangi, Jawa Timur. Archipel, 95, 53–86. https://doi.org/10.4-000/archipel.624
Marx, K. (2004). Kapital 1: Sebuah kritik ekonomi politik. Hasta Mitra.
Ningrum, H. (2014). Sejarah penjarahan lahan wilde occupatie NV. Perkebunan Gambar Desa Sumberasri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar tahun 1998-1999. Skripsi Universitas Negeri Malang.
Pelzer, K. J. (1982). Planters against Peasants: The agrarian struggle in East Sumatra 1947-1958. BRILL. https://doi.org/10.1163/9789004287280
Pramono, H. (1983). Pemberian hak milik atas tanah bekas perkebunan dalam rangka landreform di Desa Karanganyar dan Desa Karangrejo Kabupaten Blitar serta beberapa masalahnya. Skripsi, Universitas Airlangga.
Residentie Kediri, Soerabaja en oost-Madioen. (1947). KITLV http://hdl.handle.net/1887.1/item:1995995.
Ricklefs, M. C. (2013). Mengislamkan Jawa. Serambi Ilmu Semesta.
Salim, M. N. (2012). Konflik dan dinamika masyarakat pedesaan sekitar perkebunan: Kasus Tanah ex Perkebunan Karangnongko, Nglegok, Blitar. UPI Bandung: Prosiding Seminar International.
Sapto, A. (2018). Republik dalam pusaran elite sipil-militer. Mata Padi Pressindo.
Sasmita, N. (2011). Industrialisasi di Gemeente Blitar, 1900-1942. Citra Lekha, 15(2), 1-18. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/cilekha/article/view/5035
Sasmita, N. (2022). Perkebunan dan transportasi eksploitasi: Pembangunan jaringan kereta api menuju Blitar, 1884-1942. Historia, 5(2), 111-137.
Sato, S. (2015). War, nationalism and peasants: Java under the Japanese occupation, 1942-45. Routledge.
Scott, J. C. (1985). Weapons of the weak: Everyday forms of peasant resistance. Yale University Press. http://www.jstor.org/stable/j.ctt1nq836
Suara Karya. (1980, Mei 7). 60 Warga desa dari Jatim mengadukan Tanah ke DPR.
Suara Rakjat. (1964, November 14). Tanah perkebunan yang terlantar akan distribusi.
Suara Tani. (1958, November). Warta Tani: Nglegok.
Suara Tani. (1960, Juni). Sjahkan tanah garapan kaum tani.
Sudrajat, M. (2019). Penerapan Agrarische Wet (Undang-Undang Agraria) 1870: Periode awal swastanisasi perkebunan di Pulau Jawa. Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 7(2).
Suryo, D., & Kartodirdjo, S. (1991). Sejarah perkebunan di Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media.
Sutter, J. O. (1959). Indonesianisasi: Politics in a changing economy, 1940-1955. Volume IV. https://hdl.handle.net/1813/57505.
Tempo. (1981, April 25). Diciduk setelah ketemu Sudomo.
Tempo. (2000, Desember 17). Ahimsa di Petungombo.
Tempo. (2000, Desember 17). Riwayat Petungombo.
White, B. (2016). Remembering the Indonesian Peasants’ Front and Plantation Workers’ Union (1945–1966). The Journal of Peasant Studies, 43(1), 1–16. https://doi.org/10.1080/03066150.2015.1101069
Wiratman, R. (2005). Politik militer dalam perampasan tanah rakyat: Studi konflik penguasaan tanah oleh militer & kekerasan terhadap Petani di Jawa Timur.
DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v19i12025p80-97
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Editorial office:
History Department, Faculty of Social Science,
Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145,
Phone. (0341) 551312,
email: [email protected]
Website: http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya
P-ISSN 1979-9993
E-ISSN 2503-1147

This work is licensed under a CC BY SA 4.0.





