Tradisi ulur-ulur sebagai sejarah lisan kolektif: Strategi konservasi di Telaga Buret

Anya Nur Rahmanda, Sony Sukmawan

Abstract


The Ulur-ulur tradition is carried out by the people of Sawo, Ngentrong, Gedangan, and Gamping Villages, Campurdarat District, Tulungagung Regency as an expression of gratitude to God for the abundant water of Telaga Buret. This research aims to reveal the role of Ulur-ulur tradition as oral history in the effort of ecological conservation strategy of Telaga Buret. The method used in this research is qualitative with the type of field research using interview techniques and observation of the Ulur-ulur tradition. The results of this study indicate the existence of an ecological dimension of the Ulur-ulur tradition represented through offerings and the purpose of its implementation. In addition, this tradition is rooted in oral history connected to apocalyptic narratives, namely the legend of Mbah Jigang Jaya and the story of Sri-Sedana. These historical narratives form collective memory and environmental ethics in protecting the Buret Lake area. Meanwhile, preservation efforts through the Ulur-ulur tradition as a response to the threat of extinction are supported through tradition revitalization efforts in the form of reconstruction, reinstitutionalization, and creative transformation to preserve this tradition.

Tradisi Ulur-ulur dilakukan oleh masyarakat Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan, dan Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan air Telaga Buret. Penelitian ini bertujuan mengungkap peran tradisi Ulur-ulur sebagai sejarah lisan dalam upaya strategi konservasi ekologi Telaga Buret. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian lapangan menggunakan teknik wawancara dan observasi terhadap tradisi Ulur-ulur. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya dimensi ekologi dari tradisi Ulur-ulur yang direpresentasikan melalui sesaji dan tujuan pelaksanaannya. Selain itu, tradisi ini berakar dari sejarah lisan yang terhubung dengan narasi apokaliptik, yaitu legenda Mbah Jigang Jaya dan kisah Sri-Sedana. Narasi sejarah tersebut membentuk ingatan kolektif dan etika lingkungan dalam menjaga kawasan Telaga Buret. Sementara itu, upaya pelestarian melalui tradisi Ulur-ulur sebagai respons keterancaman kepunahan didukung melalui upaya revitalisasi tradisi berupa rekonstruksi, reinstitusionalisasi, dan transformasi kreatif untuk melestarikan tradisi ini.

Keywords


konservasi; narasi apokaliptik; sejarah lisan; Telaga Buret; Tradisi Ulur-ulur

References


Adhim, K. (2024). Analisis Penetapan Kawasan Perlindungan Setempat dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan dan Sumber Mata Air Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (Studi Kasus Di Telaga Buret Desa Sawo Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung). UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Angela, V. F. (2023). Strategi Pengembangan Ekowisata dalam Mendukung Konservasi Alam Danau Tahai. JIMS: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 8(3), 984–993. https://jim.usk.ac.id/sejarah/article/view/24980

Ayuningtyas, F., & Hakim, L. (2022). Ethnography of Ulur-ulur Tulungagung Ritual and the Disconnected Memory. ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia, 7(2), 130–140. https://doi.org/10.31947/etnosia.v7i2.22141

Boruah, D. (2025). Oral History Research and Resources. International Education & Research Journal (IERJ), 11(1), 88–94.

Dewi, T. K. S., Supriyadi, H., & Dasuki, S. (2018). Kearifan Lokal Mitos Pertanian Dewi Sri dalam Naskah Jawa dan Aktualisasinya sebagai Perekat Kesatuan Bangsa. Manuskripta, 8(2), 89–107.

Geijzendorffer, I. R., Cohen-Shacham, E., Cord, A. F., Cramer, W., Guerra, C., & Martín-López, B. (2017). Ecosystem services in global sustainability policies. Environmental Science & Policy, 74, 40–48. https://doi.org/10.1016/j.envsci.2017.04.017

Hakim, L., Yoesoef, M., & Indonesia, U. (2023). SINKRETISME DALAM SLAMETAN RITUAL ULUR-ULUR. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 13(1), 17–34. doi.org/1¬0.17510/paradigma.v13i1.1088

Kamsiadi, F. B., Wibisono, B., & Subaharianto, A. (2013). Istilah-Istilah yang Digunakan pada Acara Ritual Petik Pari oleh Masyarakat Jawa di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang (Kajian Etnolinguistik). Publika Budaya, 1(1), 63–78.

Keraf, A. Sonny. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Kompas.

Kurniawati, E., Sumarmi, S., & Aliman, M. (2020). Participation of Green Environmental Group and Ulur-ulur Local Wisdom on Buret Lake Ecotourism Management in Karst Area of Tulungagung, Indonesia. GeoJournal of Tourism and Geosites, 30(2 supplement), 889–895. https://doi.org/10.30892/gtg.302spl15-519

Mahardhika, A. B. (2021). ). Perkembangan Kesenian Jaranan di Tulungagung pada Tahun 1995 Hingga 2020 M. Akademia Pustaka.

Moleong, L. J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Nastiti, T. S. (2020). Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia. Tumotowa, 1(3), 1–12.

Nawiyanto, S. (2012). Bencana dan Pelestarian Lingkungan: Pandangan Etnik Jawa dan Madura Wilayah Ujung Timur Jawa. Paramita: Historical Studies Journal, 22(1). https://journal.unnes.ac.id/nju/paramita/article/view/1843

Niman, E. M. (2019). Kearifan Lokal dan Upaya Pelestarian Lingkungan Alam. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan Missio, 11(1), 91–106.

Noviyanti, D. (2019). Legenda Asal Usul Nama-nama Desa di Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Sutasoma : Jurnal Sastra Jawa, 7(1). https://doi.org/10.15294/sutasoma.v7i1.33139

Pamberton. (2018). Jawa (On the Subject of Jawa). Mata Bangsa.

Pratama, F. N. F., Nurdianto, S. A., & Waluyo, S. (2022). Mystification of Banyan Tree by Javanese as an Effort for Groundwater Conservation and Ecological Disaster Prevention. Jantra, 17(1), 41–50. https://jantra.kemdikbud.go.id/index.php/j¬antra/article/view/166

Purwantiasning, A., Kurniawan, K. R., & Suniarti, P. M. P. S. (2019). Understanding Historical Attachment Through Oral Tradition as a Source of History. Journal of Urban Culture Research, 18(1), 44–59. https://doi.org/10.58837/CHULA.JUCR.18.1.3

Putri, C. P., & Sulistyorini, D. (2023). Struktur Arketipe dalam Legenda Telaga Buret Desa Sawo Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Jurnal Pembelajaran Sastra, 4(01), 33–44. https://doi.org/10.51543/hiskimalang.v4i01.61

Santoso, E. N. S., Eko Wardani, N., & Anindyarini, A. (2021). Local Wisdom Ulur-Ulur Tlaga Buret Ceremony in Tulungagung. Humaniora, 12(3), 209–215. https://doi.org/10.21512/humaniora.v12i3.7024

Sasi, G. A., Setiyono, N. A., Anggoro, J. A., Wulandari, S. S., & Uropmabin, D. (2023). Tradisi Lisan Bencana Alam di Gunung Telomoyo: Studi Awal. Sejarah Dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, Dan Pengajarannya, 17(2), 152. https://doi.org/10.17977/um020v17i22023p152-163

Sinaga, R. M. (2016). Revitalisasi Tradisi: Strategi Mengubah Stigma Kajian Piil Pesenggiri dalam Budaya Lampung. Masyarakat Indonesia, 40(1), 109–126.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Sukmawan, S. (2016). Ekokritik Sastra: Menanggap Sasmita Arcadia. Universitas Brawijaya Press.

Sukmawan, S., Rizal, M. S., & Nurmansyah, M. A. (2018). Green Folklore. Universitas Brawijaya Press.

Sunardi, S. (2023). Makna Lakon Sri Mulih dalam Pertunjukan Wayang Relevansinya dengan Ketahanan Pangan. Jurnal Cahaya Mandalika, 4(3), 19–30. https://ojs.cahayamandalika.com/index.php/JCM/article/view/1624

Suryanullah, A. S. (2024). Perkembangan Historiografi Lingkungan di Indonesia. Journal of History and History Education, 6(1), 19–38. https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/tarikhuna/article/view/8548

Susanto, E. S. E. (2007). Revitalisasi Nilai Luhur Tradisi Lokal Madura. Karsa: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman, 12(2), 96–103. https://ejournal.iainmadura.ac.id/kar¬sa/article/view/135

Tamher, S., & Latuponu, H. (2024). Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan Melalui Program Penanaman Pohon dan Kampanye Pengurangan Plastik di Masyarakat (Kota Masohi, Maluku Tengah). Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 88–96.

Tricahyono, D., & Sariyatun, S. (2021). Tradisi Ulur-Ulur Ditinjau dari Pendekatan Konstrukstivisme sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran IPS. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 7(1), 79–88. http://dx.doi.org/10.37905/aksara.7.1.79-88.2021

Vansina, J. (1985). Oral tradition as History. University of Wisconsin Press.

Vijayakumari, K. (2018). Oral Tradition as Source of Construction of History of Pre Literate Societies. Asian Review of Social Sciences, 7(3), 140–142. https://doi.org/10.51983/arss-2018.7.3.1454

Wibowo, B. A. (2022). Eksistensi Tradisi Lisan sebagai Sumber Sejarah Lokal. Estoria: Journal of Social Science and Humanities, 3(1), 383–397. https://doi.org/10.30998/je.v3i1.1178




DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v19i12025p40-59

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Editorial office:
History Department, Faculty of Social Science,
Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145,  
Phone. (0341) 551312,
email: [email protected]
Website: http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya

P-ISSN 1979-9993
E-ISSN 2503-1147

  Creative Commons License
This work is licensed under a CC BY SA 4.0.

Web
Analytics Made Easy - StatCounter

View My Stats 

Flag Counter