URGENSITAS MAHKAMAH KONSTITUSI MENGELUARKAN FATWA HUKUM DALAM PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG

Achmad Safiudin R, Jazim Hamidi, Tunggul Anshari

Abstract


Writing this scientific article discusses the urgency of the Mahkamaha Constitution to issue a legal fatwa in the formulation of laws. Based on the idea that the making of laws which constitute the rules of implementing the constitution, constitutional questions are not impossible to emerge at the time of the formation of laws by state legislatures, because the norms of constitutional material are abstract in nature. Therefore an alternative effort is needed, namely the submission of questions to the Constitutional Court regarding the norms of the articles of the Constitution, which relate to the laws to be made / form. Through these questions, a fatwa or legal consideration was issued from the Constitutional Court, so that the DPR and the President did not appear different interpretations in fulfilling the original intent of the constitution and meeting the constitutional rights of citizens. The writing of scientific articles uses empirical juridical research methods. The results of this scientific article are the legal fatwa of the Constitutional Court as the theoretical implications of the authority to examine the constitutionality of laws against the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia can be based on a commitment to prevent acts of state administration which are not in accordance with the constitution as the highest state law. In addition, constitutional testing of the draft law through interpretation of the constitution constitutes control between state institutions (cheks and balances) to realize the ideals of a democratic legal state that prioritizes constitutional supremacy. 


Keywords


Formation of Laws; Legal Considerations; Constitutional Interpretation

Full Text:

PDF

References


Buku:

Asshiddiqie, Jimly. 2014. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika.

__________. 2008. Menuju Negara Hukum Demokratis,

Jakarta: Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi.

__________. 2005. Model-Model Pengujian Konstitusional di Berbagai Negara, Jakarta: Konpres.

Dahlan Thab, et.al., 2001. Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Hadjar, A. Fickar, dik., 2003. Pokok-pokok Pikiran dan Rancangan Undang-undang Mahkamah Konstitusi, Jakarta: KHRN dan Kemitraan.

Hamid, Zulkifli. 2000. Pengantar Perbandingan antar Hukum Tata Negara, Jakrta: RajaGrafindo Persada.

Ibrahim, Johnny. 2012. Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Cetakan ke-6, Jakarta: Bayumedia Publishing.

Laksono, Fadjar dan Subardjo. 2006. Kontroversi Undang-Undang Tanpa Pengesahan Presiden, Yogyakarta: UII Press.

Latif, Abdul. 2007. Mahkamah Konstitusi dalam Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi, Yogyakarta: Kreasi Total Media.

Marzuki, Peter Mahmud. 2010. Penelitian Hukum, Cetakan ke-6, Jakarta: Kencana.

Moh. Mahfud MD, Dkk., 2010. Constitutional Question Alternatif Baru Pencarian Keadilan Konsttusional, Malang: UB Press.

Palguna, I Dewa Gede. 2013. Pengaduan Konstitusional (Upaya Hukum terhadap Pelanggaran Hak-Hak Konstitusional Warga Negara), Jakarta: Sinar Grafika.

Soemantri, Sri. 1984. Pengantar Perbandingan Antar Hukum Tata Negara, Jakarta: CV Rajawali,.

________. 2006. Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, Bandung: PT Alumni.

Wheare, K.C. 1975. Modern Constitution, New York: Oxford University Press,.

Jurnal:

Rajab, Achmadudin, Tinjauan Hukum Eksistensi dari UU No. 8 TAHUN 2015 setelah 25 kali Pengujian Undang-Undang di Mahkamah Konstitusi Pada Tahun 2015, Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-47 No.3 Juli-September 2016.

Sodikin, Pemilu Serentak (Pemilu Legislatif dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden) dan Penguatan Sistem

Presidensial, Jurnal RechtsVinding, Volume 3 Nomor 1, April 2014.

Soewoto, Metode Interpretasi Hukum Terhadap Konstitusi, Jurnal Yuridika Fakultas Hukum Universitas Airlangga No. 1 Tahun V, Januari-Februari 1990, hlm. 34.

Peraturan Perundang-undangan:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

UU No. 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden

UU No. 22 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota.

Putusan Mahkamah Konstitusi No. 3/PUU-VII/2009.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XI/2013.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 108/PUU-XI/2013.

Artikel dan Internet:

Devi Aryani dalam artikel “Pentingnya Pemahaman Implementasi UUD 1945 tentang Peemilihan Uumum dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 2008 tentang Pilpres” http://deppoyaryani. blogspot.co.uk/2014/05/pentingnya-pemahaman-implementasi-uud.html, diakses pada tanggal 18 Juli 2017.

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.RekapPUU&menu=5, diakses pada tanggal 10 Mei 2017.

http://news.detik.com/berita/2808114/hari-ini-uu-pilkada-langsung-disahkan-begini kisah-perjalanannya, diakses pada tanggal 12 Juli 2017.

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.RekapPUU&menu=5, diakses pada tanggal 10 Mei 2017.

Rinaldo, http://news.liputan6.com/read/2110251/dpr-akhirnya-memilih-pilkada-melalui-dprd, diakses pada tanggal 12 Juli 2017.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Author and Departement Law and Citizenship

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

View JIPPK Statistics