Dinamika ekologi manusia dalam toponimi Subak Gede Pulagan-Kumba
Abstract
Subak Gede Pulagan-Kumba is a part of the Subak Landscape of the Pakerisan Watershed. Pakerisan Watershed area is one of the sites that belonged to the Cultural Landscape of Bali Province which has been declared as a world cultural heritage by UNESCO. The heritage is one of the great example of human ecology dymamics that has existed for hundreds of years. This research itself aims to examine the human ecology dynamics through the toponymy of Subak Gede Pulagan-Kumba. The toponymy is studied to discover interaction between subak’s ecology and its people through human’s view as part of the ecosystem who develops culture. The data in of this qualitative descriptive research was collected by several methods such as interview, observation, and literature review. The data that has been obtained indicates the community’s empirical knowledge of the human and ecology relationship. It is embedded in the toponymy of subak, so that conservation needs to be carried out to maintain the dynamics that have been long existed.
Subak Gede Pulagan-Kumba merupakan bagian dari Kawasan Subak DAS Pakerisan. Kawasan tersebut merupakan salah satu situs yang termasuk ke dalam warisan budaya dunia Lanskap Budaya Provinsi Bali yang telah ditetapkan UNESCO. Pusaka tersebut merupakan salah satu contoh terbaik dalam menunjukkan sifat dinamis ekologi manusia yang telah terjalin ratusan tahun lamanya. Penelitian inii bertujuan untuk menelaah dinamika ekologi manusia tersebut melalui toponimi Subak Gede Pulagan-Kumba. Toponimi dikaji untuk mengetahui interaksi manusia dengan alam berdasarkan pandangan manusia sebagai bagian dari ekosistem yang mengembangkan kebudayaan. Penelitian ini sendiri merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan beberapa metode pengumpulan data diantaranya wawancara, observasi, dan studi pustaka. Data yang telah didapat memberikan hasil penelitian bahwa pengetahuan empiris masyarakat akan hubungan ekologi dengan manusia tertanam pada toponimi subak sehingga pelestarian perlu dilakukan sebagai upaya mempertahankan dinamika yang telah terjalin.
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Abdoellah, O. S. (2017). Dasar-dasar ekologi manusia. In Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. PT Gramedia Pustaka Utama.
Aedy, H., & Mahmudin. (2017). Metodologi penelitian: teori dan aplikasi. Deepublish.
Andayani, N. K. S., & Gunawijaya, I. W. T. (2023). Ajaran Brahmawidya dalam Lontar Eka Pratama. Jñānasiddhânta: Jurnal Teologi Hindu, 4(1), 31–40.
Artha, I. N. (2016). Struktur organisasi sistem Subak di Bali.
Barlian, E., & Iswandi, U. (2020). Ekologi manusia. Deepublish.
Camalia, M. (2015). Toponimi Kabupaten Lamongan (kajian antropologi linguistik). Parole, 5(1), 74–83.
Darmanta, I. N., Sudiatmaka, I. K., & Pursika, I. N. (2013). Peranan Subak Pulagan-Kumba dalam penanggulangan alih fungsi lahan pertanisan di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Jurusan Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha.
Dharmawan, A. H. (2007). Dinamika sosio-ekologi pedesaan: perspektif dan pertautan keilmuwan ekologi manusia, sosiologi lingkungan, dan ekologi politik. Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, Dan Ekologi Manusia, 1(1), 1–40.
Granoka, I., Astra, I., Bagus, I., Jendra, I., Medera, I., & Ginarsa, K. (1985). Kamus Bali Kuno - Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Halfian, W. O., Hariyati, & Masri, F. A. (2022). Toponimi penamaan jalan di Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Metalingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(1), 35–50.
Hendro, E. (2017). Beberapa keunikan sebagai landasan penetapan Outstanding Universal Values (OUV) dalam rangka mewujudkan Kota Lama Semarang sebagai world heritage city. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 11(2), 64–75.
Heritage Centre, W. (2012). Operational guidelines for the implementation of the world heritage convention United Nations educational, scientific and cultural organisation intergovernmental committee for the protection of the world cultural and natural heritage world heritage centre. http://whc.unesco.org/en/guidelines
Hidayah, N. (2019). Toponimi nama pantai di Yogyakarta. Seminar Nasional Linguistik Dan Sastra (SEMANTIKS), 313–322. https://jurnal.uns.ac.id/prosidingsema¬ntiks
Kamandalu, S. G. B., Laksmi, N. K. P. A., Zuraidah, & Prihatmoko, H. (2023). Rotting banyu dan suwinih sebagai penerapan pajak dalam pemanfaatan air irigasi subak. Purbawidya: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 12(2), 192–205. https://doi.org/10.55981/purbawidya.2023.879
Kartika, C. L., & Savitri, A. D. (2020). Penamaan jalan di Kotamadya Surabaya: kajian toponimi. Bapala, 7(4), 1–15. https://www¬.surabaya.go.id/id/info-penting/¬47601/daftar-
Mas’ad. (2019). Analisis kelestarian subak pasca ditetapkan menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO (D. W. Hadi, Ed.; 1st ed.). Pusat data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan.
Murdiati, E. (2015). Pengetahuan ekologi lokal. Wardah, 16(2), 155–165.
Nerawati, N. (2020). Implementation of Tri Hita Karana teachings in subak activities in Bali. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 4(2), 133–140. http://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH
Norken, I., Suputra, I., & Arsana, I. (2020). Implementasi Tri Hita Karana pada Subak Pulagan sebagai warisan budaya dunia di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Simposium Dosen Universitas Udayana .
Oktovianny, L. (2020). Toponimi “Talang” di Palembang: kajian etnolinguistik. Konferensi Lingusitik Tahunan Atma Jaya, 16.
Prasetyo, B. (2020). Alam dan manusia “sebuah kesatuan yang dipisahkan wacana.” Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai Dan Pembangunan Karakter, 2(1), 31–46.
Rofiq, A. (2019). Tradisi slametan Jawa dalam perspektif pendidikan Islam. Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 15(2), 93–107.
Rosyidah, A. (2022). Penamaan makanan tradisional Madura di Desa Retok (Kajian Etnolinguistik).
Salamanca, A. M., Nugroho, A., Osbeck, M., Bharwani, S., & Dwisasanti, N. (2015). managing a living cultural landscape: Bali’s Subaks and The UNESCO world heritage site.
Sarita, A. F., Windia, I. W., & Sudarita, I. W. (2013). Persepsi petani Subak Pulagan terhadap penetapan Subak sebagai warisan budaya dunia (Studi kasus Subak Pulagan Kawasan Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar). Jurnal Agribisnis Dan Agrowisata, 2(4), 214–223. http://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA214
Strauß, S. (2015). Alliances across ideologies: networking with NGOs in a tourism dispute in Northern Bali. Asia Pacific Journal of Anthropology, 16(2), 123–140. https://doi.org/10.1080/14442213.2014.1001996
Surata, S. (2016). Wisata edukasi: strategi pengembangan wisata berkelanjutan lanskap sakral tradisional DAS Tukad Pakerisan Hulu. In Pengelolaan DAS Tukad Pakerisan Berkelanjutan dan Berbasis Budaya.
Suyoga, I. (2018). Pudarnya egalitarianisme pada arsitektur Bali aga. Pangkaja: Jurnal Agama Hindu, 21(1), 1–9.
Thoyib, M. (2021). Toponimi desa-desa di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. JALIE: Journal of Applied Linguistics and Islamic Education, 5(1), 1–24.
Widari, D. (2021). Dampak pengelolaan Subak Jatiluwih sebagai warisan budaya terhadap lingkungan. Jurnal Kajian Dan Terapan Pariwisata, 2(1), 38–50. https://doi.org/10.53356/diparojs.v2i1.48
Windayanto, A., & Kesuma, J. (2023). nama-nama kafe di Malang Raya: bentuk, makna, dan refleksi sosiokultural. Linguistik Indonesia, Februari, 41(1), 1–20.
Zoetmulder, P. J. (1983). Old Javanese-English dictionary (S. Robson, Ed.). Kluwer Academic Publishers.
DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um020v17i22023p198-211
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2023 Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Editorial office:
History Department, Faculty of Social Science,
Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145,
Phone. (0341) 551312,
email: [email protected]
Website: http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya
P-ISSN 1979-9993
E-ISSN 2503-1147

This work is licensed under a CC BY SA 4.0.





