DEKOLONISASI PENDIDIKAN DALAM PEMIKIRAN WILLEM ISKANDER: REKONSTRUKSI EPISTEMOLOGI LOKAL MANDAILING DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KRITIS
Abstract
Abstract: This study critically examines the educational thought of Willem Iskander (1840-1876), a figure who articulated the decolonization of education long before such discourse became mainstream in postcolonial scholarship. Employing a hermeneutic and historical-critical approach, this research explores how Iskander synthesized the local wisdom of the Mandailing community with the modern educational system he acquired in the Netherlands. The article argues that Sibulus-bulus sirumbuk-rumbuk is not merely a literary product but a pedagogical manifesto embedding epistemic resistance against colonial hegemony. Using a library research method with primary and secondary sources, findings reveal that Iskander's three pillars of thought, namely (1) reverence for the mother tongue as a pedagogical medium, (2) integration of local moral values in the curriculum, and (3) intellectual empowerment of indigenous peoples, carry significant relevance for the contemporary curriculum decolonization agenda in Indonesia. The theoretical implications of this study contribute to the development of a critical educational theory grounded in the local wisdom of the Nusantara archipelago.
Keywords: decolonization of education; Willem Iskander; indigenous education; Mandailing local wisdom; postcolonialism
Abstrak : Penelitian ini menelaah secara kritis pemikiran pendidikan Willem Iskander (1840-1876) sebagai tokoh yang merumuskan gagasan dekolonisasi pendidikan jauh sebelum wacana tersebut menjadi arus utama dalam kajian postkolonial. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan analisis historis-kritis, kajian ini mengeksplorasi bagaimana Iskander menghubungkan nilai-nilai kearifan lokal Mandailing dengan sistem pendidikan modern yang ia pelajari di Belanda. Artikel ini berargumen bahwa karya Sibulus-bulus sirumbuk-rumbuk bukan sekadar produk sastra, melainkan manifesto pedagogis yang memuat resistensi epistemis terhadap hegemoni kolonial. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tiga pilar pemikiran Iskander, yakni (1) penghargaan terhadap bahasa ibu sebagai medium pedagogis, (2) integrasi nilai moral lokal dalam kurikulum, dan (3) pemberdayaan intelektual pribumi, memiliki relevansi yang signifikan bagi agenda dekolonisasi kurikulum pendidikan Indonesia kontemporer. Implikasi teoretis dari kajian ini berkontribusi pada pengembangan teori pendidikan kritis berbasis kearifan lokal Nusantara.
Kata Kunci: dekolonisasi pendidikan; Willem Iskander; pendidikan pribumi; kearifan lokal Mandailing; postkolonialisme
Keywords: decolonization of education; Willem Iskander; indigenous education; Mandailing local wisdom; postcolonialism
Abstrak : Penelitian ini menelaah secara kritis pemikiran pendidikan Willem Iskander (1840-1876) sebagai tokoh yang merumuskan gagasan dekolonisasi pendidikan jauh sebelum wacana tersebut menjadi arus utama dalam kajian postkolonial. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan analisis historis-kritis, kajian ini mengeksplorasi bagaimana Iskander menghubungkan nilai-nilai kearifan lokal Mandailing dengan sistem pendidikan modern yang ia pelajari di Belanda. Artikel ini berargumen bahwa karya Sibulus-bulus sirumbuk-rumbuk bukan sekadar produk sastra, melainkan manifesto pedagogis yang memuat resistensi epistemis terhadap hegemoni kolonial. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tiga pilar pemikiran Iskander, yakni (1) penghargaan terhadap bahasa ibu sebagai medium pedagogis, (2) integrasi nilai moral lokal dalam kurikulum, dan (3) pemberdayaan intelektual pribumi, memiliki relevansi yang signifikan bagi agenda dekolonisasi kurikulum pendidikan Indonesia kontemporer. Implikasi teoretis dari kajian ini berkontribusi pada pengembangan teori pendidikan kritis berbasis kearifan lokal Nusantara.
Kata Kunci: dekolonisasi pendidikan; Willem Iskander; pendidikan pribumi; kearifan lokal Mandailing; postkolonialisme
Keywords
Willem Iskander; indigenous education; Mandailing local wisdom; postcolonialism
Full Text:
PDFDOI: http://dx.doi.org/10.17977/um0330v9i1p137-147
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Editorial office:
History Department, Faculty of Social Science,
Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145,
Phone. (0341) 551312,
email: [email protected]
Website: http://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah/index
E-ISSN 2622-1837

This work is licensed under a CC BY SA 4.0.




